Herbal dan Temulawak sebagai Obat Pilihan

Temulawak sebagai tanaman monokotil tidak memiliki akar tunggang. Akar yang dimiliki adalah rimpang. Rimpang adalah bagian batang yang terletak di bawah tanah. Rimpang temulawak berukuran paling besar di anatar semua rimpang genus Curcuma. Oleh karena itu, walaupun nama daerah temulawak bermacam-macam, tetap mengandung arti yang sama, yaitu temu yang besar.

Turmeric powder in wooden bowls on wooden table (freepik)

Ada beberapa fakta menarik tentang pertumbuhan temulawak, di Bogor, Jawa Barat, Temulawak hampir berbungan sepanjang tahun. Hal ini disebabkan iklim dan cuaca di Bogor cukup berbeda dengan Kawasan penghasil temulawak lainnya. Di Bogor hampir tidak ada musim kemarau, atau dengan kata lain musim kemarau di daerah Bogor tidak memiliki waktu yang jelas kapan datang dan berakhirnya. Selain itu, curah hujan di Bogor juga cukup tinggi, yakni sekitar 4.000 mm/tahun. Biasanya, bunga temulawak mulai mekar setelah pukul 3.00 dini hari dan semua kuncup bunga sudah mekar sebelum pukul 7.00 pagi. Bunga itu mekar selama beberapa jam saja, kemudian berangsur-angsur hingga layu pada sore harinya (Said, 2007).

Fresh ginger with leaves in tray. On wooden background (freepik)

Menurut Rozanna (2007) mengatakan bahwa fenomena back to nature telah melanda masyarakat dunia sehingga tren permintaan masyarakat terhadap konsumsi pangan, minuman kesehatan dan obat dari bahan alam terus meningkat. Menurut penelitian Hidayati dkk (2011) alasan penggunaan obat tradisional karena aman (46,2%) dan menurut Wardana (2008) dalam Hidayati dkk (2011) alasan penggunaan obat tradisional kerena mudah didapat (44%).

Masyarakat juga menganggap obat tradisional aman untuk dikonsumsi karena berasal dari alam dan sudah digunakan secara turun-temurun (Harmanto dan Subroto, 2007 dalam Hidayati dkk, 2011). Salah satu jenis temu-temuan yang paling banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional adalah temulawak (Dalimartha, 2000).

SUMBER :

Penulis : Bella Amalia

Dalimartha, S., 2006, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 4, 182-183, Puspa Swara, Jakarta.

Hidayati, Ana, dan Dyah Aryani Perwitasari. 2011. Persepsi Pengunjung Apotek Mengenai Penggunaan Obat Bahan Alam Sebagai Alternatif Pengobatan Di Kelurahan Muja Muju Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional “Home Care” Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. ISBN: 978-979-18458-4-7.

Rozanna R, 2007. Potensi Tanaman Obat Sebagai Pangan Fungsional Mendorong Ekspor. Buku Panduan Seminar Nasional Tanaman Obat dan Obat Tradisional. BPPTO. Tawangmangu, Karanganyar, Surakarta. Jateng.

Said, A. 2007. Khasiat dan Manfaat Temulawak. Jakarta: PT. Sinar Wadja Lestari.

Tinggalkan Balasan

Close Menu