DAUN JAMBU BIJI (PSIDIUM GUAJAVA) & ANGKAK (MONASCUS PURPUREUS) DAPAT MENINGKATKAN TROMBOSIT

[ CV. Nutrima Sehatalami – Bogor ] Trombosit darah pada manusia dapat menurun salah satunya adalah akibat penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD. Demam dengue adalah penyakit seperti influenza yang sangat berat namun tidak menyebabkan kematian, sedangkan DBD merupakan penyakit influenza berat yang diikuti pendarahan dan syok yang dapat menimbulkan kematian (Admidjaja, 2006). Penyakit tersebut ditimbulkan karena nyamuk aedes aegypti. Trombosit merupakan sel darah yang berfungsi dalam hemostasis. Sel ini tidak memiliki nukleus dan dihasilkan oleh megakariosit dalam sumsum tulang (Sloane, 2004). Pada pasien DBD terjadi trombositopenia akibat munculnya antibodi terhadap trombosit karena kompleks antigen-antibodi yang terbentuk (Suhendro, 2009). Berdasarkan penelitian Pusparini (2004), nilai hematokrit dan jumlah trombosit saat masuk rumah sakit dapat dijadikan acuan dalam menentukan penderita sebagai dengue primer atau sekunder. Penampakan umum Aedes aegypti adalah ukurannya kecil berwarna hitam belang putih, aktif menggigit pada jam 08.00-11.00 dan 15.00-18.00. Bagian belakang tubuh, pergelangan kaki, dan siku merupakan bagian yang sering menjadi target pengigitan. Nyamuk ini berkembang biak di daerah panas dan lembap (Chandra, 2010). Menurut Nettina dan Ajy (2016) tahapan DBD, yaitu:

  1. Tahap awal: Fase awal DBD mirip dengan demam berdarah dan penyakit virus demam lainnya. Virus disimpan dalam kulit oleh vektor, dalam beberapa hari viremia terjadi, berlangsung hingga hari ke 5 untuk gejala yang muncul.
  2. Gejala hemorragik: Tidak lama setelah demam pecah atau kadang-kadang dalam waktu 24 jam sebelumnya, tanda-tanda kebocoran plasma muncul seiring dengan perkembangan gejala hemorragik.
  3. Kebocoran pembuluh darah: Pada pasien ini menghasilkan hemokonsentrasi dan efusi serosa dan dapat menyebabkan kolaps sirkulasi.
  4. Kemajuan: Jika tidak diobati, DBD kemungkinan besar berkembang menjadi sindrom syok dengue.

Tanaman jambu biji merupakan tanaman yang istimewa, buahnya memiliki kandungan zat gizinya yang tinggi, seperti vitamin C, potasium, dan besi. Selain itu, juga kaya zat non gizi, seperti serat pangan, komponen karotenoid, dan polifenol. Buah jambu biji bebas dari asam lemak jenuh dan sodium, rendah lemak dan energi, tetapi tinggi akan serat pangan. Vitamin C yang terkandung dalam jambu biji termasuk tinggi, sehingga dapat menjadikan jambu biji sebagai antioksidan. Buah jambu biji merah memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi diantara berbagai jenis buah lainnya seperti jeruk, stroberi dan pepaya. Kandungan vitamin C pada buah jambu biji merah lebih tinggi dibandingkan dengan jambu biji putih (Dzakiy, 2008). Vitamin C yang tinggi dalam buah jambu biji merah bermanfaat dalam meningkatkan kekebalan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan luka (Departemen Kesehatan, 2008).

Di dalam daun jambu biji antara lain mengandung tanin, minyak atsiri (eugenol), dan minyak lemak. Oleh karena adanya senyawa-senyawa yang terkandung di dalamnya menyebabkan tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Daun jambu biji berbentuk bulat panjang, bulat langsing, atau bulat oval dengan ujung tumpul atau lancip. Warna daunnya beragam seperti hijau tua, hijau muda, merah tua, dan hijau berbelang kuning. Permukaan daun ada yang halus mengilap dan halus biasa. Tata letak daun saling berhadapan dan tumbuh tunggal. Panjang helai daun sekitar 5-15 cm dan lebar 3-6 cm. Sementara panjang tangkai daun berkisar 3-7 mm (Parimin, 2005).

Daun jambu biji (Psidium guajava Linn.) ternyata mengandung berbagai macam komponen yang berkhasiat mengatasi DBD. Daun jambu biji mengandung metabolit sekunder seperti tanin, polifenolat, flovanoid, menoterpenoid, alkaloid, kuinon, saponin, minyak atsiri, dan siskulterpen (Kurniawati, 2006). Kandungan senyawa kimia pada daun tersebut meliputi alkohol, aldehida, hidrokarbon alifatik, alkohol aromatik, kadalena, kalsium, karbohidrat, beta kariofilena, kasuarinin, klorofil A, klorofil B, sineol, tanin terkondensasi, asam krategolat, minyak atsiri, galiotanin, 4-gentiobiosida asam elagat, guajaverin, asam guajavolat, guavin A, guavin B, guavin C, guavin D, tanin yang dapat terhidrolisis, asam 2-alfa-hidroksi ursolat, unsur anorganik, isostriktinin, leukosianidin, limonena, D-limonena, DLlimonena, lutein, asam mastinat, monoterpenoid, neo-beta-karotena U, nerolidol, asam oleanolat, asam oksalat, pedunkulagin, pigmen, kalium, asam psidiolat, kuersetin, sesquiguavaena, sesquiterpenoid, beta-sitosterol, stakiurin, striknin, telimagrandin I, triterpenoid, asam ursolat (Soegijanto, 2010).

Ekstrak daun jambu biji juga dapat meningkatkan jumlah megakariosit dalam sumsum tulang sehingga dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah (Soegijanto et al., 2010). Red Fermented Rice (RFR) dikenal juga dengan nama angkak merupakan salah satu obat herbal yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk meningkatkan jumlah trombosit terutama pada kasus demam berdarah. Angkak merupakan hasil fermentasi beras yang menggunakan kapang Monascus purpureus (Rindiastuti, 2008). Hal yang penting yang harus diperhatikan dalam DBD adalah disfungsi endotel dan trombositopenia, yang terjadi melalui mekanisme inflamasi atau apoptosis. Salah satu alternatif untuk mencegahnya adalah dengan pemanfaatan angkak. Angkak ini mengandung isoflavon dan lovastatin yang berperan sebagai senyawa anti inflamasi (Rindiastuti, 2008).

Mekanisme jambu biji dapat meningkatkan trombosit tubuh adalah karena adanya senyawa tanin dan flavonoid dalam bentuk quersetin yang merupakan kandungan dari ekstrak daun jambu biji dapat menghambat aktivitas enzim reverse trancriptase. Enzim inilah yang merupakan katalisator terjadinya replikasi virus di RES sehingga dapat menghambat pertumbuhan virus dengue. Tanin akan menghambat masuknya zat makanan yang diperlukan oleh serangga dan membuat serangga akan mati karena tidak dapat makan (Dewanti, 2005). Kandungan senyawa tanin dan flavonoid ekstrak daun jambu biji juga dapat meningkatkan jumlah megakariosit dalam sumsum tulang sehingga dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah. Peningkatan jumlah trombosit ini terjadi melalui mekanisme peningkatan jumlah sitokin, terutama GM-CSF, IL-3 dan rangsangan proliferasi dan diferensiasi tersebut dikontrol oleh TNFα dan IL3, sehingga dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah (Soegijanto et al., 2010).

Muharni (2013) melakukan penelitian mengenai efek penggunaan ekstrak daun jambu biji dan angkak dalam meningkatkan trombosit, kombinasi ekstrak daun jambu biji dan angkak dapat meningkatkan trombosit. Untuk demam berdarah, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik menyebutkan bahwa pemberian ekstrak kering daun jambu biji selama 5 hari mempercepat pencapaian jumlah trombosit >100.000/µl, pemberian ekstrak kering setiap 4-6 jam meningkatkan jumlah trombosit >100.000/µl setelah 12-14 jam, tanpa menimbulkan efek samping yang berarti. Dengan demikian, ekstrak daun jambu biji dapat digunakan untuk pengobatan kuratif demam berdarah. Untuk meraciknya, di ambil daun Jambu Biji sebanyak 3-5 lembar, di rebus dengan air sebanyak 2 gelas lalu diminum setiap 4 jam.

Kontributor : Arumdini

Nutrima Sehatalami : Produsen / Maklon Herbal || Health Food & Nutraceutical Company.

Alamat : Jalan Panorama 5 blok E no.14 RT.05/RW.05 Kelurahan Sindangbarang Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor Telp. (0251) 8423291

REFERENSI

Admidjaja, T. K. 2006. Demam Berdarah Dengue. Diakses pada http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.html.

Chandra, A. 2010. Demam Berdarah Dengue : Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko penularan. Aspirator. 2(2):110-119.

Departemen Kesehatan. 2008. Tatalaksana Penanganan Demam Berdarah Dengue, Jakarta

Dewanti, T. W., Siti Narsitoh Wulan, Indira Nur C. 2005. Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Produk Kering, Instan dan Effervescent dari Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl). Jurnal Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Vol. 6, No. 1, hh 29 – 36

Dzakiy, U. N. 2006. Jambu Biji. Diakses pada http://www.agribisnis.deptan.go.id/index.php?files=BeritaDetail&id=52- 105k.

Kurniawati, A. 2006. Formulasi Gel Antioksidan Ekstrak Daun jambu Biji (Psidium guajava L) dengan Menggunakan Aquapec HV-505. Skripsi. Jurusan Farmasi FMIPA Unpad, Sumedang. 64 hlm

Muharni, S., Almahdy, dan R. D. Martini. 2013. Efek Penggunaan Suplemen Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava Linn.) dan Angkak (Monascus purpureus) dalam Meningkatkan Trombosit pada Demam Berdarah Dengue (DBD) di Instalasi Rawat Inap Ilmu Penyakit Dalam RSUP. DR. M. Djamil Padang. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia 1(2): 57-61.

Nettina, S. M., B. Jay. 2016. Lippincott Manual Of Nursing Practice: 10th Edition.

Parimin, 2005. Jambu Biji. Budi Daya dan Ragam Pemanfaatannya. Jakarta: Penebar Swadaya.

Pusparini. 2004. Kadar Hematokrit dan Trombosit sebagai Indikator Diagnosis Infeksi Dengue primer dan sekunder. Jurnal Kedokteran Trisakti 23(2): 51-6.

Rindiastuti, Y., dan K. D Tyasari. 2008. Potensi Monascus Purpureus Rice Strain TNP-13 Disfungsi Endotel, Fakultas Kedokteran Sebelas Maret, Solo.

Sloane, E. 2004 Anatomi dan Fisiologi. Penerbit ECG, Jakarta.

Soegijanto. S., M. S. Azhali, A. R. Tumbelaka, Anggraini, R. Rufianti. 2010. Uji Kinik Multisenter Sirup Ekstrak Daun Jambu Biji Pada Penderita Demam Berdarah Dengue.Medicinus. 23(1).

Suhendro, N., L. Chen, Khie. 2009. Demam Berdarah Dengue. Dalam : Aru S, editor (penyunting). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-5. Interna Publishing, Jakarta.

Leave a Reply

Close Menu